Umat Hindu mengikuti tradisi Melasti di Pantai Parangkusumo, Bantul, DI Yogyakarta, Minggu (27/2/2011). Tradisi Melasti dilangsungkan untuk menyucikan diri guna menyambut Hari Raya Nyepi.

 

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan penganut Hindu tumpah ruah dalam upacara Melasti yang digelar di Pantai Parangkusumo, Mancingan, Parangtritis, DI Yogyakarta, Minggu (18/3/2012) siang tadi. Mereka berdatangan dari berbagai wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Seluruh umat Hindu mengenakan pakaian adat khas Bali. Upacara Melasti sendiri merupakan upacara penyucian diri (Buana Alit) dan bumi (Buana Agung) beserta isinya yang digelar tiap menjelang hari raya Nyepi. Sementara itu, iring-iringan Melasti dari Pura Jagadnatha, Banguntapan, Bantul, baru tiba di pelataran parkir Cepuri Parangkusumo sekitar pukul 14.00 WIB.

Ketua panitia Melasti, Ketut Gunawan, mengatakan, makna spiritual Melasti itu membuang segala macam sifat-sifat buruk dengan introspeksi diri. Sifat-sifat buruk yang dimaksud antara lain enam sifat atau Sad Ripu, Sad Tatayi (enam pembunuhan kejam), Sapta Timira (tujuh kegelapan), Dasa Mala, Tri Mala, Asta Dustha, serta Astha Corah.

“Tanpa menyalahkan orang lain selalu menasihati diri sendiri,” ungkapnya.

Ia mengatakan, meskipun hari raya, janganlah menganggap Nyepi atau Melasti adalah hari terbaik. Sebab, semua hari adalah baik. Hari yang tidak baik adalah ketika umat melupakan Tuhan.

Seorang peserta upacara, Ni Luh Putri Meilinda Sari (19), berharap dari upacara Melasti ini ia bisa menyambut tahun baru Saka dengan lebih baik. Paling tidak, kehidupan pada tahun baru ini lebih baik dari tahun lalu. “Sekalian introspeksi diri,” jelasnya.

Menurut dia, berbeda dengan Bali, perayaan di Yogyakarta jauh lebih sepi. Di tempat kelahirannya, pesertanya sangat banyak, tidak ada pengeras suara dan langsung ada gamelan. Diiringi rombongan juru kidung dan alunan musik tradisional Gong Blanganjur, arak-arakan pengusung Jempana dari enam pura di DIY dikirab menuju pantai.

Sumber http://www.kompas.com
 

TERKAIT: